Pelaksanaan ujian praktik merupakan salah satu momen yang paling dinantikan sekaligus
mendebarkan bagi siswa kelas 9 di SMPN 11 Banjarbaru. Tahun ini, sekolah memilih sebuah kegiatan yang
tidak hanya menguji aspek kognitif dan psikomotorik, tetapi juga menyentuh aspek emosional dan
pelestarian budaya: pembuatan kaos Sasirangan. Kegiatan yang berlangsung selama tiga hari, mulai dari
tanggal 13 hingga 15 April 2026, menjadi panggung bagi para siswa untuk menunjukkan sejauh mana
mereka menghargai kearifan lokal Kalimantan Selatan.
Kegiatan ini disusun secara sistematis dengan jadwal bergantian antar kelas. Hal ini dilakukan agar
setiap siswa mendapatkan fasilitas yang memadai dan bimbingan yang intensif dari para guru penguji.
Dengan pembagian waktu ini, suasana belajar tetap kondusif dan setiap tahapan pembuatan Sasirangan dapat terpantau dengan baik, mulai dari desain awal hingga proses finishing.

Filosofi di Balik Sehelai Kaos Sasirangan
Sasirangan bukan sekadar kain bermotif; ia adalah identitas masyarakat Banjar yang telah ada sejak
zaman dahulu. Dengan memilih media kaos, pihak SMPN 11 Banjarbaru ingin mendekatkan tradisi ini
kepada generasi muda. Siswa tidak lagi melihat Sasirangan sebagai pakaian formal yang kaku, melainkan
sebagai gaya hidup yang bisa mereka kenakan dalam keseharian. Kaos putih polos yang semula tidak
memiliki karakter, perlahan bertransformasi menjadi karya seni yang sarat akan makna filosofis melalui
tangan-tangan kreatif siswa kelas 9.

Rangkaian Proses: Uji Kesabaran dan Ketelitian
Proses pembuatan Sasirangan pada media kaos memiliki tantangan tersendiri dibandingkan kain katun biasa. Tekstur kaos yang lebih elastis menuntut ketelitian ekstra saat melakukan tahap ‘menyirang’ atau menjahit jelujur. Berikut adalah detail tahapan yang dilalui siswa selama ujian praktik berlangsung:

Tahapan KerjaDetail Aktivitas Siswa
Pembuatan Pola (Mal)Siswa menggambar motif tradisional seperti Bayam Raja, Iris Pudak, dan Kambang Kacang. Kreativitas mereka diuji saat menggabungkan motif-motif ini agar terlihat estetis di atas kaos.
Menjelujur (Sirang)Menggunakan jarum dan benang khusus, siswa menjahit mengikuti pola. Jarak jahitan harus konsisten agar motif yang dihasilkan tajam dan tidak ‘pecah’.
 PengerutanBenang ditarik hingga kain kaos mengerut dengan sangat rapat. Kekuatan tarikan benang menjadi kunci keberhasilan agar warna tidak merembes ke area yang seharusnya tetap putih.
Pewarnaan (Dyeing)Siswa mencelupkan kaos ke dalam bak pewarna. Banyak yang bereksperimen dengan teknik gradasi atau perpaduan dua warna sekaligus untuk menghasilkan efek modern.
Pembersihan & FinishingSetelah warna meresap dan dikeringkan, benang dilepas secara perlahan. Kaos kemudian dicuci untuk menghilangkan sisa zat warna sebelum akhirnya siap untuk dipamerkan.

Edukasi Karakter di Luar Ruang Kelas

Sepanjang tanggal 13 hingga 15 April tersebut, area sekolah berubah menjadi bengkel seni yang hidup. Para guru penguji tidak hanya menilai hasil akhir, tetapi juga prosesnya. Penilaian mencakup bagaimana siswa bekerja sama dengan rekan satu meja, bagaimana mereka mengatasi kendala teknis seperti benang yang putus saat ditarik, hingga tanggung jawab dalam menjaga kebersihan lingkungan setelah proses pewarnaan selesai. Ini adalah bentuk nyata dari penguatan pendidikan karakter di sekolah.

Salah seorang siswa kelas 9 berbagi pengalaman bahwa bagian paling menantang bukanlah saat menggambar pola, melainkan ketika menarik benang jelujur. Jika tarikan terlalu kuat, benang berisiko putus, namun jika terlalu longgar, motif khas Sasirangan tidak akan muncul dengan sempurna. Di sinilah para siswa belajar tentang konsep ‘keseimbangan’ dan esensi kesabaran dalam berkarya. Proses ini mengajarkan bahwa hasil yang indah tidak dapat dicapai dengan cara terburu-buru.

Dukungan Sekolah dan Harapan Masa Depan

Pihak SMPN 11 Banjarbaru terus berkomitmen untuk memberikan ruang luas bagi bakat-bakat kreatif siswa. Dokumentasi kegiatan yang tersimpan rapi menunjukkan betapa seriusnya sekolah dalam menggarap agenda pelestarian budaya ini. Melalui ujian praktik ini, sekolah berharap para siswa tidak hanya sekadar mengejar nilai akademik yang baik, tetapi juga memiliki keterampilan praktis yang bernilai ekonomi jika terus dikembangkan secara mandiri di masa depan.

Dengan berakhirnya rangkaian ujian pada 15 April 2026, deretan kaos Sasirangan yang dijemur di bawah sinar matahari Banjarbaru menjadi bukti nyata dedikasi seluruh siswa kelas 9. Setiap motif yang dihasilkan menceritakan kisah tentang kerja keras, ketelitian, dan rasa bangga akan tanah kelahiran. Kaos- kaos karya siswa ini nantinya akan dikenakan dalam berbagai acara sekolah tertentu sebagai simbol keberhasilan mereka melewati salah satu tantangan besar di penghujung masa SMP.

Categories:

Tags:

No responses yet

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *